Showing posts with label ANDREW HO. Show all posts
Showing posts with label ANDREW HO. Show all posts

Wednesday, December 24, 2008

TINDAKAN LEBIH PENTING DARI PENGETAHUAN

Pada suatu hari seorang ilmuwan terkenal bertanya kepada guru agamanya, "Pak, apakah inti penting di dalam agama?"
"Jangan melakukan segala dosa, sebaliknya jalankan semua amal dan kebaikan," jawabnya.
Ilmuwan itu menganggap bahwa itu adalah jawaban standar yang terlalu luas dan kurang jelas. "Apa yang Bapak katakan itu terlalu sederhana. Anak berusia tiga tahun pun akan sudah tahu jawaban seperti itu," timpalnya.
"Memang anak seusia itu juga akan mengerti, tapi orang tua yang telah berusia delapan puluh tahun belum tentu bisa melakukannya," sahut guru agama itu.
Pesan:
Apa yang telah diungkapkan oleh sang ilmuwan sangat sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang yang cukup pintar dan mengerti tentang rambu-rambu kehidupan dari ilmu pengetahuan yang mereka pelajari, seminar, buku, televisi dan lain sebagainya. Misalnya bila kita ingin sukses, maka kita harus bersikap positif (lebih ramah, disiplin, jujur, gigih berusaha, dan lain sebagainya) serta menjauhi tindak negatif (korupsi, kolusi dan nepotisme, menghasut, menipu dan lain sebagainya).
Tetapi hanya sebagian kecil diantara kita yang benar-benar sukses dan bahagia. Banyak juga orang pintar yang melanggar aturan negara maupun agama, misalnya berbuat korupsi, pembunuhan, praktik ilegal dan tindak kriminal lainnya. Mengapa? Karena semua pengetahuan itu hanya sebatas wacana atau tidak berlanjut kedalam tindakan nyata.
Kunci kebahagiaan dan keberhasilan dalam kehidupan setelah mencari ilmu pengetahuan adalah mempraktekkan semua ilmu pengetahuan tersebut kedalam tindakan nyata. Segudang ilmu pengetahuan tidak akan bermanfaat bila kita sendiri tidak menjalankannya. "Tindakan tidak selalu membawa kebahagiaan, tetapi tidak ada kebahagiaan tanpa tindakan," kata Benjamin Disraeli.
Sebaliknya, betapapun sederhana ilmu pengetahuan yang kita miliki akan memiliki kekuatan yang dahsyat jika kita menggunakannya setiap hari dan setiap saat. Contoh sederhana misalnya kita ketahui bahwa bersikap disiplin, jujur dan tersenyum atau ramah kepada semua orang itu baik. Pengetahuan tersebut akan memberikan manfaat lebih dahsyat terhadap berbagai hal termasuk kesuksesan dan suasana hati bila kita senantiasa mempraktekkannya. Oleh sebab itu latihlah diri kita senantiasa melakukan tindakan nyata atas apa yang sudah kita ketahui.

BAHAYA MINUMAN KERAS

Dikisahkan tentang sebuah kota yang dihuni mayoritas pecandu minuman keras. Pemerintah setempat semakin khawatir, pasalnya ulah para pemabuk itu sudah meresahkan masyarakat. Sehingga pemerintah menggelar sebuah seminar yang membahas tentang bahaya minuman keras bagi kesehatan. Seminar yang dipandu oleh dokter-dokter senior di kota tersebut dimaksudkan untuk menggugah kesadaran warga supaya mengurangi dan menghentikan kebiasaan buruk minum minuman keras.Salah seorang dokter berusaha memberikan bukti peraga, agar para pecandu minuman keras itu
segera sadar. Dokter tersebut menyediakan 2 gelas kaca. Kemudian mengisi gelas pertama dengan air mineral, lalu mengisi gelas kedua dengan larutan alkohol. Setelah itu ia memasukkan 1 ulat kedalam masing-masing gelas.
Ulat yang dimasukkan kedalam air mineral dapat melompat keluar dari gelas. Sedangkan beberapa menit kemudian, ulat yang dimasukkan kedalam larutan alkohol mati. "Apa kesimpulan yang Anda dapatkan dari percobaan ini?" tanya sang dokter memancing respon peserta seminar.
Tiba-tiba seorang pecandu minuman keras yang sedang mabuk berat langsung berdiri dan menjawab pertanyaan itu. "Ini menunjukkan bahwa jika kita minum alkohol, berarti perut kita tidak akan ada ulat," tukasnya diiringi tawa keras diikuti tawa peserta seminar lain.
Pesan:
Berdasarkan respon pecandu minuman keras di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi hati dan pikiran penduduk wilayah tersebut sudah tertutup terhadap nilai-nilai kebenaran. Kejadian seperti itu dapat terjadi dimanapun dengan kasus berbeda-beda pula. Dalam keadaan demikian, eksistensi manusia sebagai mahluk yang berakal dan berhati nurani semakin terkikis oleh nafsu atau kebiasaan-kebiasaan buruk.
Upaya penyelamatan harus segera dilakukan untuk mengembalikan mental masyarakat menjadi bijak dan kembali hanya melakukan aktivitas bermanfaat. Tetapi kita juga tak dapat berharap banyak kepada siapapun untuk melakukan upaya penyelamatan tersebut. Alangkah baiknya, jika kita membangun kesadaran tersebut dari dalam diri sendiri terlebih dahulu.
Perubahan besar yang diharapkan tentu saja lebih cepat terjadi, jika diikuti kesadaran masing-masing individu dari unsur masyarakat terkait, misalnya para pejabat pemerintahan, tokoh masyarakat, kalangan intelektual maupun masyarakat awam. Terlebih jika diikuti dengan sosialisasi yang intensif tentang pentingnya hidup bermoral, disiplin dan sehat, maka kesadaran untuk hidup lebih baik akan membudaya. Sehingga pada suatu ketika masyarakat dengan kesadaran yang tinggi akan menyatakan ‘tidak untuk minuman keras’, ‘tidak untuk narkoba’, ‘tidak untuk korupsi’, dan ‘tidak’ untuk hal-hal negatif lainnya.

ADA YANG MELIHAT

Dikisahkan tentang sebuah kehidupan ekonomi sebuah keluarga yang sangat menyedihkan. Mereka tidak pernah dapat memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Karena anak-anak mereka sudah sangat lapar, sang ayah terpaksa mencuri sayuran di kebun milik tetangga.
Karena merasa tak ada yang melihat perbuatannya, si ayah meneruskan tindakan tidak terpuji tersebut berkali-kali. Sampai suatu ketika sang anak yang kebetulan menemani sang ayah berteriak, karena merasa ada orang yang terus memperhatikan mereka. “Ada orang yang terus memperhatikan kita, Ayah,” teriak si anak ketakutan.
“Di mana orangnya?” kata si ayah setengah berbisik dan memberikan isyarat agar si anak tidak bersuara keras.
“Ayah lihat di atas, mata besar itu terus melihat ke arah kita,” bisik si anak sambil menunjuk bulan purnama di langit.
Kalimat lugu dari si anak menyadarkan si ayah. Meskipun tidak ada orang lain yang melihat, tetapi Tuhan YME selalu memperhatikan tindakannya yang tidak terpuji. “Ya anakku, kamu benar. Bulan memang selalu memperhatikan perbuatan kita,” kata si ayah. Si ayah meneteskan air mata penuh penyesalan sembari memeluk erat anaknya. Di dalam hati ia berjanji tidak akan mengulangai lagi perbuatan tidak terpuji tersebut.
Pesan :
Kemiskinan atau keadaan seburuk apapun tak dapat dijadikan pembenaran untuk melakukan tindak negatif, misalnya mencuri, korupsi, menipu, merampok, mencopet dan lain sebagainya. Masih banyak solusi dengan cara yang benar dan tepat agar terlepas dari kemiskinan atau keadaan-keadaan buruk lainnya. Bersikap jujur, rajin bekerja, sopan, bersabar, bertindak kreatif dan lain sebagainya adalah jalan keluar untuk keluar dari keadaan yang buruk tersebut.
Contoh bila kita selalu bersikap jujur dalam berbisnis dari mulai niat sampai beraktifitas, maka kita akan dipercaya orang. Seorang pedagang yang jujur merupakan daya tarik luar biasa untuk menarik pelanggan datang berbondong-bondong kepadanya. Dampaknya, bisnis bertambah maju karena mendapatkan banyak keuntungan.
Oleh sebab itu biasakan diri kita selalu bertindak benar dan tepat. Jangan pernah kita berusaha menghalalkan segala cara karena merasa sedang terdesak. Secara berkala berusahalah mengevaluasi diri apakah perbuatan kita benar atau keliru, kemudian tumbuhkan kesadaran menghindari perbuatan tercela. “Ketika aku berbuat baik, aku merasa enak. Ketika aku berbuat buruk, aku merasa tidak enak. Itulah agamaku,” kata Abraham Lincoln.
Ada beberapa kiat sederhana untuk menghindari perbuatan tercela dan membiasakan diri berbuat benar dan tepat. Yang pertama adalah mendekati atau berusaha bergaul dengan orang-orang yang berperilaku positif. Selanjutnya adalah mencari lingkungan yang positif. Yang ketiga adalah mengingat selalu dampak buruk yang akan kita terima dari perbuatan negatif.
Sedangkan kiat pamungkas dan paling efektif menghindarkan diri kita dari perbuatan buruk adalah mengingat Tuhan YME sesering mungkin. Kekuatan spiritual adalah kontrol yang sangat potensial supaya kehidupan kita senantiasa diwarnai dengan kebahagiaan dan sikap kita identik dengan keluhuran budi pekerti. Karena sikap dan keluhuran budi pekerti menghidupkan hati dan sangat penting dalam mengarungi bahtera kehidupan kita.
“None of us can hope to get anywhere without character, moral courage and the spiritual strength to accept responsibility. – Tak seorangpun diantara kita bisa berharap sampai ke tujuan, tanpa karakter, moral keberanian dan kekuatan spiritual dalam mengemban tanggung jawab,” demikian Thomas J. Watson.

Tuesday, December 23, 2008

12,5 DOLLAR

Kejadian ini diceritakan terjadi pada tahun 1920 di Amerika Serikat. Saat itu seorang anak berusia 9 tahunan bermain bola di komplek rumahnya. Entah mengapa ia menendang bola terlalu keras dan mengenai kaca jendela sebuah rumah di komplek tersebut. Tak ayal kaca jendela itu pecah berkeping, sementara sang pemilik rumah marah besar.
Pemilik rumah minta ganti rugi untuk kaca yang sudah dipecahkan sebesar 12,5 dollar tak peduli siapapun pelakunya, seorang anak kecil sekalipun. Pada saat itu uang sebesar 12,5 dollar nilainya sangat besar, setara dengan 125 ekor ayam betina. Anak itu merasa takut sekaligus bingung karena tak punya uang.
Dengan wajah murung ia pulang meminta bantuan uang kepada ayahnya. “Kamu harus bertanggungjawab atas kesalahanmu. Jangan minta orang lain menanggung kesalahanmu,” kata ayahnya.
“Tapi, saya tidak punya uang,” jawab anak itu memelas.
“Saya akan meminjamkan uang untuk kamu. Tapi kamu harus mengembalikannya dalam satu tahun,” kata si ayah mengajukan syarat.
“Baiklah!” jawab anak itu senang.
Setelah itu si anak bekerja sampingan untuk mendapatkan uang. Dalam waktu 6 bulan ia berhasil mengumpulkan uang sebesar 12,5 dollar dan melunasi hutang kepada ayahnya. Si ayah sangat senang menerima uang dari anaknya. “Kamu memang seorang ksatria sejati!” puji ayahnya sambil tersenyum.
Pada masa selanjutnya tersiar kabar bahwa anak kecil itu berhasil menjadi presiden Amerika ke 40. Ia memerintah Amerika sejak tahun 1981 hingga 1989. Kisah tersebut adalah salah satu kejadian yang pernah dialami oleh Ronald Wilson Reagan (1911 – 2004).
Pesan:
Sikap bertanggung jawab adalah modal meraih keberhasilan di bidang apapun. Berdasarkan kisah di atas kita dapat melihat bahwa sikap tanggung jawab mendidik seseorang berusaha mengatasi masalah dan memperbaiki diri. Didikan dari orang tua menjadikan Ronald Reagan kecil tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Selama masa kepemimpinannya, Ronald Reagan dinilai cukup berhasil memajukan perekonomian Amerika Serikat. Dirinya juga dicintai rakyat. Hal itu nampak jelas dari kesedihan yang luar biasa dari sebagian besar rakyat Amerika ketika ia meninggal dunia pada tanggal 5 Juni 2004.
Masing-masing diantara kita sudah pasti dituntut bersikap bertanggung jawab, entah terhadap diri sendiri, keluarga, lingkungan, pekerjaan dan lain sebagainya. “Hari dimana Anda menerima tanggungjawab dan berhenti mencari alasan, di hari itulah Anda mulai melangkah menuju sukses,” O.J. Simpson. Menjalankan tanggung jawab dengan baik mendidik diri kita untuk senantiasa melakukan segala hal dengan baik dan benar.
Sebagaimana filsuf seperti Aristotle mengatakan, “Kualitas bukan suatu tindakan, tapi suatu kebiasaan.” Bila kita selalu membiasakan diri bersikap bertanggung jawab, maka sikap tersebut akan menjadi ciri khas dan memberi manfaat sangat besar terhadap diri kita. Misalnya seseorang yang selalu bertanggung jawab, maka ia akan memiliki satu jiwa luhur dan satu kekuatan semangat kerja yang luar biasa. Dengan kata lain, membiasakan diri bersikap tanggung jawab memberikan dampak positif lebih besar dibandingkan kerugiannya

HARGA SEBUAH KESUKSESAN

Dalam sebuah seminar, seorang motivator terkenal memulainya dengan mengeluarkan sehelai uang Rp.100.000,-. Ia mengangkat uang tersebut tinggi-tinggi, sambil mengajukan sebuah pertanyaan kepada lebih dari 2.000 peserta seminar.“Siapa yang menginginkan uang ini?”
Tak ayal sebagian besar peserta mengacungkan tangan.
Motivator tersebut melanjutkan kalimatnya, “Baik! Saya akan memberikan uang ini kepada salah satu diantara Anda. Tetapi sebelum itu saya akan melakukan sesuatu.”
Motivator tersebut menggulung uang kertas itu. Sekali lagi ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang masih menginginkan uang ini?” Tak berbeda dengan sebelumnya, hampir semua peserta seminar tersebut mengacungkan tangan, pertanda mereka masih menginginkan uang itu.
Melihat respon peserta yang tidak berubah, motivator tersebut kemudian menginjak-injak uang tersebut dengan kaki kanan lalu dengan kaki kiri. Setelah uang itu menjadi kotor dan lecek, ia kembali bertanya, “Apakah masih ada yang mengingkan uang ini?”
Masih sama dengan sebelumnya, hampir semua peserta mengacungkan tangan. Kemudian dia berkata, “Saudaraku sekalian, dari peragaan tadi saya hanya ingin menunjukkan bahwa siapun ingin memiliki uang itu. Bagaimanapun kondisi uang tersebut tidak akan menurunkan nilainya dari Rp. 100.000,-”
Pesan :
Kisah tersebut menerangkan sebuah kebenaran bahwa kehidupan ini memang sulit. Setiap hari kita menghadapi tantangan kecil, sedang, berat, hingga sangat berat. Tetapi pada dasarnya tantangan kehidupan tidak mengurangi nilai kita sebagai manusia. Sebaliknya tantangan kehidupan sangat diperlukan untuk meningkatkan nilai diri kita.
“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy. – Nilai seorang manusia tidak dapat diukur disaat ia berada di zona nyaman, melainkan bagaimana ia menghadapi tantangan dan kontrovesi,” kata Martin Luther King Jr.
Tetapi sangat banyak diantara kita yang hanya mengeluhkan kehidupan yang penuh dengan tantangan. Mereka lupa harus belajar sesuatu dari tantangan, rasa sakit dan perjuangan hidup. Karena jika segalanya di dunia ini sempurna, maka kita tidak akan dapat belajar hal baru atau mendapatkan semangat lebih besar untuk berbuat lebih baik dan meningkatkan nilai diri kita sebagai manusia

Wednesday, October 15, 2008

PEMENANG SEJATI


Dikisahkan tentang seorang pemain racquet ball terkenal bernama Reuben Gonzales.
Dalam sebuah pertandingan untuk merebut piala kejuaraan dunia, ia mendapatkan posisi super shot untuk mendapatkan poin kemenangan. Menurut wasit, pukulannya cukup bagus dan menempatkan dirinya sebagai pemenang.
Tetapi ia justru menghampiri lawan mainnya sambil berkata, “Pukulan tadi itu salah. ” Pengakuan Reuben membuat juri memutuskan dan menyatakan Reuben kalah dalam pertandingan. Keputusan tersebut menyulut protes keras dari para penggemar Reuben. Usai pertandingan Reuben mengeluarkan sebuah pernyataan. “Hanya dengan cara itu saya dapat menjaga kejujuran saya,” katanya bijak.
Tindakan Reuben adalah contoh tindakan seorang pemenang sejati, meskipun ia dinyatakan kalah dalam pertandingan.
Pesan :
Kisah di atas mengilustrasikan bahwa manusia secara naluriah memang selalu ingin dikatakan yang terbaik. Tetapi Reuben adalah contoh personifikasi yang mampu mengendalikan dirinya untuk tidak menghalalkan segala cara agar dianggap yang terbaik. Ia beralasan ingin mempertahankan kejujuran.
Sebenarnya apa arti kejujuran hingga membuat Reuben dengan senang hati melepaskan kemenangan yang nyaris disandangnya? Kejujuran adalah unsur penting bagi setiap individu untuk membangun jati dirinya. Tanpa kejujuran, seseorang tidak akan mampu membangun jati diri, karena ia kehilangan kepribadiannya untuk menutupi kelemahan-kelemahan dirinya (weakness recovery). Kejujuran adalah rasa tanggung jawab dari hati nurani hanya untuk memperbaiki diri dan memberi makna hidup.
Jujur kepada diri sendiri ditandai dengan sikap disiplin, tidak melakukan kepalsuan atau kebohongan hanya untuk jaga gengsi. Sedangkan orang yang mempunyai sikap jujur kepada orang lain memiliki empati dan tidak segan berbuat kebaikan. Dalam melaksanakan tanggung jawab pekerjaan, orang yang jujur selalu bekerja penuh semangat dan optimisme. Sedangkan jujur kepada Tuhan YME adalah merasakan kehadiranNya, sehingga tak terlintas keinginan untuk berbohong atau berperilaku mendustai keberadaanNya.
Cobalah dengan jujur menilai apakah Anda sudah berusaha dan mampu berlaku jujur kepada diri sendiri, orang lain dan Tuhan YME?